Pesona Status Mahasiswa

Posted: 9,Jan , 2011 in pergerakan

Mahasiswa adalah status yang eksklusif. Mahasiswa adalah elemen masyarakat kecil dari keseluruhan komposisi pembentuk masyarakat. Tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan, dan semakin sedikit yang mengenyam pendidikan hingga perkuliahan. Oleh karena sifatnya yang terbatas ini, maka status mahasiswa bisa dikatakan eksklusif. Dan karena statusnya yang ekslusif, ia  harus mampu membuktikan keekslusifannya. Maka, seorang mahasiswa haruslah berbeda, cara berpikir, cara pandang dan sikapnya dari elemen masyarakat lainnya. Dalam hal ini, pembedaan itu ada pada hal-hal positif yang mampu ia berikan kepada masyarakat. Kontribusi yang ia berikan kepada masyarakat.

Mahasiswa adalah harapan bangsa, calon  pemimpin negeri di masa mendatang. Dipundaknya digantungkan asa bahwa mahasiswa mampu memberikan perubahan ke arah lebih baik bagi masyarakat. Tentunya, tantangan itu akan terjawab saat ia kembali ke masyarakat. Bercampur dan berbaur dengan elemen masyarakat lainnya. Dengan hak dan kewajiban yang sama dengan elemen masyarakat lain, hanya cara dan kualitas pemenuhannya yang berbeda. Sebutlah dalam hal membayar pajak misalkan. Biasanya masyarakat awam memandang itu (pajak) adalah sebagai beban. Namun, mahasiswa dengan kesadaran pengetahuannya, memandang pajak adalah sebagai bagaian kontribusi yang ia berikan kepada Negara untuk pembangunan.

Pada diri mahasiswa, adanya kematangan sikap dengan aplikasi ilmu yang didapat di bangku kuliah. Dalam menyelesaikan dan memandang suatu konflik, misalnya dalam pertandingan bola dimana masyarakat cenderung menyukai tindakan kekerasan dalam permainan bola, layaknya supporter fanatic, sebagai mahasiswa dengan kematangan pola pikirnya akan menganggap sepakbola adalah sebuah permainan dengan kalah dan menang adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dan selalu ada.

Dalam memandang suatu persoalan, ia anggap kekurangan adalah sebagai suatu tantangan, menganggap suatu keterbatasan sebagai  peluang. Dan ini sudah bisa dibiasakan dan dibuktikan seelum mahasiswa tersebut benar-benar siap turun ke masyarakat. Pada prorgam Kuliah Kerja Nyata misalnya adalah sebagai moment pembuktian sikap di atas. Maka, inovasi mahasiswa dibidang teknologi pembangkit listrik tenaga hidro misalnya, adalah bukti kerja keras mahasiswa dalam menyikapai keterbatasan adanya sumber listrik di suatu daerah.

Budaya kritis dan ilmiah senantiasa melekat pada dirinya. Memandang suatu hal dengan rasional (akal). Terhadap hal yang berbau mitos, ia tidak percaya begitu saja. Tetapi memandang segala sesuatu dengan berdasar akal dan logika. Kecuali memang hal yang diluar batas nalarnya. Misalkan masalah keagamaan yang kadang logika tidak mampu menjangkau masalah-masalah keagamaan.

Mereka juga memiliki kemampuan dalam menganalisa suatu permasalahan untuk kemudian mendapatkan solusi tepat. Kepiawaian dalam bersikap atas kendala yang dihadapi. Dengan segudang ilmu (meski terkadang adalah teori), diharapkan mahasiswa mampu menjadi problem solver, tempat bertanya bagi masyarakat. Jika masyarakat cenderung sebagai problem maker atau problem trader, justru mahasiswa menjadi problem solver. Jika masyarakat acapkali mengeluhkan masalah, mahasiswa justru menemukan solusi-solusi. Ia menghindari pemecahan masalah dengan cara represif dan sporadis.

Mungkin terasa ideal  benar kondisi di atas. Dan ternyata, pada kondisi sehari-hari ternyata malahan ditemui profil mahasiswa yang tidak seperti disebutkan di atas. Menurut hemat saya, karena kurang dibiasakan saat berada di kampus. Makanya, pada saat berada di kampus dengan lingkungan yang relative homogeny tingkat pendidikannya, adalah ajang mempersiapkan diri untuk menjadi mahasiswa yang ideal (atau mendekati ideal). Makanya, jadikan latihan itu senagai sungguhan dan kondisi sesunggunya sebagai latihan. Dengan menganggap sebagai latihan, tentunya ada permakluman saat ditemui kondisi-kondisi yang tidak seharusnya.

Dengan menyadari adanya rangkaian tantangan yang menantinya di depan sana membuat   mahasiswa harus gelisah dan segera untuk mempersiapkan bekal-bekal dalam mengadapinya.  Benar-benar disiapkan agar suatu saat ketika dibutuhkan unuk muncul, maka bisa disikapi dengan tepat.  Dan saat itu adalah saat dimana ia benar-benar terjun ke masyarakat saat ia sudah wisuda. bercampur  dan berbaur dengan masyarakat yang lebih heterogen dengan kondisi keilmuan, tingkatan ekonomi dan kemampuan yang bervarasi. Namun, meski bercampur dan berbaur dengan masyarakat, tetapi sikap fundamental seorang mahasiswa (pemuda) tidaklah luntur. Menurut Mahfudz Siddiq, nilai lebih atau kekutaan seorang mahasiswa atau pemuda  adalah :

  1. Idealisme
  2. Kecerdasan
  3. Sikap kritis dan kepekaan sosial
  4. Keberanian
  5. Pengorbanan

Kelima hal diatas tetap akan ada pada diri mahasiswa (pemuda) dimanapun mereka berada. Dan jika salah satunya hilang, maka aan mengakibatkan kecacatan pda status mahasiswa. Atau hilanglah status mahasiwa tersebut. Dengan kata lain, jika idealisme telah sirna, raibnya kecerdasan, sikp kritis dan peka entah kemana, keberanian menciut dan terkikis habis pengorbanan, mengakibatkan seseorang itu tidak layak disebut sebagai mahasiswa (pemuda).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s