Pendidikan Profesi Guru Segera Diubah

Posted: 19,Des , 2010 in pendidikan

Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal mengatakan, pihaknya akan melakukan perubahan terhadap pendidikan profesi guru yang sudah dilakukan selama ini. Menurutnya, selama ini pendidikan profesi guru selama satu tahun dinilai belum cukup untuk bekal mengikuti perkembangan yang terjadi. Bahkan, termasuk pendidikan 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

Mantan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemdiknas ini mengungkapkan, design pendidikan profesi guru selama ini menggunakan siklus 4 tahun sarjana dan 1 tahun pendidikan profesi. Dikatakan, keduanya tersebut harus dilihat secara menyeluruh. Jika pendidikan profesi satu tahun diperbaiki, lanjut dia, maka pendidikan 4 tahun juga harus mendapatkan perbaikan serupa. “Itu yang harus kita kejar terus. Apalagi kalau sudah dibayar mahal untuk itu,” ujar Fasli usai membuka seminar Re-Design Pendidikan Profesional Guru di Jakarta, Sabtu (18/12/2010).
Fasli menambahkan, guru adalah tiang pembangunan. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan terhadap guru pada 2008, masih ada 1 orang guru dari 7 orang yang tidak berada di kelas untuk mengajar. Masalah-masalah seperti ini yang harus diperbaiki. “Kita memiliki data per kabupaten dan kota, data per studi, data per jenjang pendidikan berapa guru yang dibutuhkan. Saat ini saya sering dikritik orang dari Bappenas dan Kementerian Keuangan, dengan menaikan anggaran, apa kontribusi pendidikan untuk kita?,” imbuhnya.

Di samping itu, Fasli juga mengatakan, meskipun banyak jumlah guru yang telah lulus portofolio, namun hal tersebut tidak akan mengubah sikapnya. Di dalam kelas, lanjut Fasli, khusus bagi guru matematika terlalu banyak membahas masalah yang tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran. Bahkan, jumlahnya sangat tinggi hingga mencapai 11 persen. “Di negara lain seperti Jepang hanya 1-2 persen saja,” tegasnya.

Guru-guru yang tidak lulus fortofolio, katanya, dimasukan dalan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Semuanya harus mengikuti pendidikan selama 90 jam. Padahal, kekurangan guru tidak semuanya sama. “Harus ada pembagian kelompok. Tidak perlu semuanya 90 jam. Terlalu menghabiskan waktu dan dana. Mungkin cukup 50 jam saja. Atau cukup 20 jam saja. Kita tetap tes potensi akhir dan personalnya,” harap Fasli. (cha/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s