Kalau Bukan Ramadhan Kali ini Kita Diampuni Allah, lalu Kapan Lagi?

Posted: 22,Agu , 2010 in dakwah

Di bulan ramadhan, atmosfer  lingkungan sangat mendukung untuk melakukan amal saleh. Masjid-masjid selalu penuh, baik di siang hari maupun di malam hari. Malam-malamnya dipenuhi dengan ibadah salat tarawih dan dilengkapi dengan ceramah agama di masjid yang biasanya pada malam tak ada ceramah agama, pada malam-malam ramadhan sebelum tarawih diadakan ceramah agama.

Pada waktu Subuh, akan selalu penuh oleh jamaah. Selain memang didominasi oleh anak-anak atau siswa dalam aktivitas program didikan subuh. Tapi demikian, banyaknya jamaah yang akan hadir akan menyemangati jamaah lain. Maka, jamaah shubuh pun akan membludak di bulan ramadhan.

Bulan yang ketika melakukan sekali salat saja, pahalanya sama dengan melakukan shalat yang sama sebayak 700 kali. Sedangkan, pada hari  biasa, tidaklah mampu kita melakukan shalat hingga 700 kali. Benar-benar sebuah akselerasi amalan yang sangat luarbiasa untuk kita.

Pada bulan ramadhan, kita akan menjadi dermawan atau lebih dermawan. Lebih sering bersedekah, dimana pada tiap malam dan subuh disediakan fasiitas untuk bersedekah. Sedekah yang memberikan pahala untuk kita, apalagi propaganda pahala dilipatgandakan selalu digelorakan berulang-ulang, membat kita senantiasa terpacu ntuk beramal. Saling berlomba-lomba bersedekah. Dan faktanya, pendapatan infak di bulan ramadhan selalu besar.

Amalan sedekah di bulan Ramadhan itu dilipatkan pahalanya karena kemuliaan waktu dan tempatnya sebagaimana amal-amal dilipatkan pahalanya pada dua masjid Mekah dan Madinah (masjid Nabawi) yaitu shalat di dua masjid tersebut berpahala 1000 kali lipat dibanding shalat di tempat lainnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa memberi buka puasa pada orang yang berpuasa maka baginya semisal pahala mereka tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Darimi. Hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani). Kita bisa mendapatkan pahala puasa setara dengan puasa 5 hari jika kita memberi berbuka puasa pada 5 orang. Tentu berat  jika harus berpuasa hingga 5 hari. Sementara, hanya dengan  memberi berbuka kepada 5 orang saja, kita akan mendapat pahala 5 orang yang berpuasa. Dan tidak disebutkan, untuk  membukakan harus mewah atau tidak.

Kontrol dari dalam diri, pada saat puasa kita cenderung terkontrol untuk tidak melakukan kemaksiatan, karena dalam keadaan lapar, nafsu untuk melakukan hal-hal yang buruk/kejahatan akan  karena kita dalam keadaan tidaka begitu bertenaga.

Kita akan lebih berhati-hati dalam berbicara, berusaha jujur dan menghindari bohong. Kadang kita diingatkan dengan : “puasa nggak boleh bohong”. Padahal sejatinya diluar puasa juga kita dilarang berbohong.

Kita juga lebih mengendalikan/menahan pandangan (gadhul bashar) dan berusaha menghindar pandangan-pandangan yang merusak hati kita. Padahal, diluar puasa juga kita dituntut menghindari hal-hal yang bisa merusak pikiran kita lewat mata.

Cenderung ketika kita akan marah, segera ingat bahwa kita sedang berpuasa, kita urung marah dan kita terhindar dari  Perbuatan yang tidak berakhlak ini.

Sarana yang memancing adanya maksiat ditutup, membuat kita bahkan mungkin tidak berfikir untuk melakukan perbuatan maksiat. Gembong-gembong setan dirantai. Kesempatan kita melakukan ibdah karena godaan semakin sedikit. Dibuka pintu ampunan dan surga seluas-luasnya. Semakin terbukanya semangat menggapai balasan yang dijanjikan.

Inilah, momentum yang menjanjikan kepastian dosa-dosa kita akan diampuni. “Barangsiapa berpuasa bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lampau diampuni”.(Muttafaq Alaihi)

Musim panen pahala. Rasulullah saw. bersabda:  “Telah datang bulan Ramadhan kepada kalian, bulan barakah yang di dalamnya Allah mendatangi kalian.  Maka turunlah rahmat.  Dan dihapuskanlah kesalahan-kesalahan. Di bulan itu Allah mengabulkan doa.  Di bulan itu Allah melihat (memperhatikan) perlombaan di antara kalian.  Dan Allah membanggakan kalian kepada para malaikatNya.  Maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan sebab orang yang celaka adalah yang tidak mendapatkan rahmat  Allah di dalamnya “.

Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mendekatkan diri kpd Allah  dengan perbuatan baik (sunnah/mandub) pada bulan Ramadhan, (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan suatu kewajiban (fardlu) pada bulan yang lain.  Siapa saja yang menunaikan kewajiban (fardlu) di bulan Ramadlan , (ia diganjar pahala) sama dengan orang yang mengerjakannya 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain”.

Sedemikian menjanjikan balasan atas amalan-amalan di bulan ramadhan. Pahala yang luar biasa. Maka, jika sudah sedemikan luar biasa kesempatan yag diberikan kepada kita oleh Allah SWT dan ternyata pada bulan ramadhan ini kita belum juga mendapat ampunan dari Allah SWT karena maksiat kita, lalu kapan lagi… Kapan lagi kita akan mendapatkan ampunan-Nya?

Kalau Bukan Ramadhan Kali ini Kita Diampuni Allah, lalu Kapan Lagi?

Komentar
  1. Inodram mengatakan:

    Subhanallah.. Blog baru ya! SELAMAT!
    Kunjungi jg Blog baru saya: inodram.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s