MENELUSURI PERADABAN

Posted: 28,Mar , 2008 in pergerakan

Peradaban, Kebudayaan dan Kekuasaan

Kalau kita baca definisi kebudayaan (culture), misalnya dalam Kamus yang sama: (1). The totality of socially transmitted behavior patterns, arts, beliefs, institutions, and all other products of human work and thought…., maka kebudayaan memiliki makna yang hampir sama dengan peradaban. Keduanya adalah hasil kerja manusia pada suatu zaman. Namun, dalam pembicaraan secara umum, peradaban nuansanya lebih luas, lebih menyeluruh, lebih sophisticated, dan lebih mentereng.
Disamping itu, berbeda dengan kebudayaan, peradaban lebih dekat dengan struktural (kekuasaan), bahkan melingkupinya. Sedang kebudayaan, biasanya malah sering disebut sebagai antitesa dari kekuasaan (struktural), sehingga sering muncul istilah ‘pendekatan struktural’ dan ‘pendekatan kultural’. Belum lagi dalam keseharian, kebudayaan malah dipersempit lagi dengan aspek2 kesenian belaka. Bahkan kedua aspek itu sering digabung menjadi seni-budaya. Karenanya berbeda dengan kebudayaan yang bisa dibiarakan relatif terlepas dari kekuasaan, peradaban hampir selalu terkait dengan kekuasaan.

Sejarah Sekilas Peradaban Islam
1. Periode Nabi Muhammad SAW

Menelusuri peradaban Islam tentu saja harus dimulai dari awal munculnya agama Islam pada masa Rasulullah SAW, karena disitulah pondasi seluruh nilai-nilai peradaban Islam. Pada masa kenabian Muhammad SAW yang hanya 23 tahun ini, Rasulullah menanamkan seluruh nilai-nilai dan ajaran Islam baik yang bersifat individual dan sosial.

Secara umum, para ulama membagi periode kenabian menjadi dua yang masing-masing memiliki kekhasan nilai-nilai yang ditekankan. Periode pertama adalah periode Makkah, yaitu periode ketika Rasul SAW bersama sahabat tinggal di Makkah. Periode ini kira-kira berlangsung 13 tahun. Pada periode lebih menekankan pada penanaman nilai-nilai dasar Islam, sekaligus mengkoreksi nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat Quraisy. Sehingga kalau kita lihat dalam ayat-ayat Al-Quran periode Makkah akan terlihat sekali bahwa kebanyakan ayat-ayat tersebut bertemakan hal-hal yaitu: 1. Tauhid, 2. Hari Akhir, 3. Mengkritik kecintaan kepada dunia (materialisme), 4. Pembelaan kepada kaum lemah (mustadh’afin) dan miskin, dan 5. Akhlaq dasar Islam.

Berikut misalnya contoh ayat-ayat Makkiyah:
QS Al-Mudatsir:

1. Hai orang yang berkemul (berselimut), (QS. 74:1)
2. bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS. 74:2)
3. dan Rabbmu agungkanlah, (QS. 74:3)
4. dan pakaianmu bersihkanlah, (QS. 74:4)
5. dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, (QS. 74:5)
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (QS. 74:6)
7. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. 74:7)
8. Apabila ditiup sangkakala, (QS. 74:8)
9. maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, (QS. 74:9)
10. bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. (QS. 74:1

QS Al-Ikhlas:

1. Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa”. (QS. 112:1)
2. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. (QS. 112:2)
3. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, (QS. 112:3)
4. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (QS. 112:4)

QS Al-Humazah

1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS. 104:1)
2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya , (QS. 104:2)
3. ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, (QS. 104:3)
4. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. (QS. 104:4)
5. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (QS. 104:5)

QS Al-Maun:

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (QS. 107:1)
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, (QS. 107:2)
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. 107:3)

Dari ayat-ayat tersebut terlihat bahwa Ayat-ayat Makkiyah ini bersifat lugas, singkat, tegas dan menggugah. Isinya berisi dasar-dasar nilai Islam, yaitu akidah dan akhlaq. Dalam bahasa sekarang barangkali pembentukan ideologi. Sedikit yang berisi aturan-aturan rinci.

Karena nilai-nilai yang ditawarkan Islam ini bersifat pembebasan (dari berhala dan tirani), dan emasipatif, maka pada periode ini dakwah Islam banyak menarik kelompok tertindas (mustadh’afin), meski di kalangan sosial atas juga ada (seperti Abu Bakar dan Usman). Di sisi lain, ditentang keras oleh kelompok elit dan status quo di Quraisy.

Periode kedua adalah Madinah, yaitu sesudah Rasulullah hijrah ke madinah. (Madinah artinya kota, dari akar kata yang sama “tamadun” artinya peradaban berasal). Periode ini berlangsung selama sekitar 10 tahun. Berbeda dengan periode Makkah, pada periode Madinah ini mulai dibangun sistem sosial kemasyarakatan, berdasarkan nilai-nilai yang telah ditanamkan di Makkah. Berbagai aturan yang rinci diperkenalkan.

Sebagai contoh, jika periode Makkah ditanamkan kecintaan kepada kelompok tertindas (sebagaimana ayat2 di atas), maka periode Madinah dibangun aturan penerapan cara menyantuni kelompok tertindas melalui ketentuan zakat, misalnya. Misalnya dalam ayat-ayat berikut:
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:60)
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 9:103)

Pada periode ini, nilai-nilai ideal Islam diterapkan dalam masyarakat Madinah, inilah dasar peradaban Islam yang ideal. Kalau kita perhatikan maka peradaban Islam yang ingin dibangun Islam memiliki (paling tidak) beberapa sifat pokok, yang berbeda dg masyarakat Quraisy:

1. Masyarakat Tauhid
Masyarakat Tauhid adalah masyarakat yang bergerak menuju dan berorientasi kepada ketundukan kepada Allah Yang Maha Esa. Ketundukan kepada Allah menjadi pengikat seluruh sekaligus puncak ketaatan. Masyarakat Tauhid menganggap hanya Allah SWT, dan perintahnya yang layak diterima tanpa reserve, sedang yang lainnya hanya diterima jika tidak bertentangan dengan prinsip pertama. Karenanya masyarakat tauhid adalah masyarakat yang meletakkan nilai spiritual pada tempat tertinggi, dan mendasari seluruh kehidupan.

2. Masyarakat berkeadilan, terbuka, egaliter dan emansipatif
Konsekuensi logis dari masyarakat Tauhid, adalah menganggap seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama (egaliter), bersikap adil kepada sesama, terbuka terhadap siapa saja untuk menerima sesuatu yang baik dan benar tanpa memandang latar belakang, sekaligus membebaskan (emansipatif) dari segala belenggu yang tidak perlu. Karena sikapnya yang seperti itu pada awalnya banyak sekali pengikut dari kalangan tertindas dan kelompok sosial ekonomi yang rendah.

3. Masyarakat berpegang pada hukum (syariah)
Dalam masyarakat yang dikembangkan oleh Rasululllah SAW, Hukum-hukum Allah diletakkan sebagai undang-undang dalam kehidupan (rule of law), mengalahkan seluruh kekuasaan, maupun kedudukan sosial. Semua orang memiliki hak dan kedudukan yang sama di hadapan hukum Allah, tidak ada beda antara kulit hitam dan kulit putih.

4. Masyarakat yang bersatu berdasarkan keimanan, bukan pada kelompok
Berbeda dengan masyarakat jahiliah yang menjadikan Kabilah/suku, menjadi pusat identitas dan keterikatan setiap individu, masyarakat Islam menjadikan keimanan sebagai basis keterikatan dan identitas.

Nilai-nilai dasar inilah, yang kemudian dikembangkan sepanjang sejarah peradaban Islam berikutnya.

Insya Allah bersambung…. ABU AFKAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s