jalan petualang

Posted: 24,Mar , 2008 in Uncategorized

ketika hati dan pikiran sudah letih dengan rutinitas, seakan telinga dipenuhi ribuan tawon, dan kepala seakan terisi auman kebosanan yang memuncak, hidung berbau pasir, mata menahan perih, hati ini ternyata butuh refresh.

maka pada hari minggu, 23 Maret 2008, ana pergi rihlah sekalian menghadiri walimahan salah satu personil Fisika 06, komponen dari Physics 06 yang dulu ikut merampungkan rangkaian suatu komponen lengkap yang bernama PHYSICS 06.

acara berlangsung meriah, di BUKITTINGGI. Sebagai wakil dari rekan-rekan yang tidak bis menampakkan senyumnya di hari bersandingnya permata kami, maklum mereka mempunyai kesibukan tidada terkira menjelang praktikum hari senin. Rombongan Physics 06 terwakilkan oleh FADIL 048, EDO 045, SULUNG 021, ARLINDO, 017-dari kaum ADAM- dan Rizka, FIFI, NITA, SRI, DILLA dari kaum feminim.

sesi MAKAN2 berlancar jalan, eh berjalan lancar, tanpa ampun kami menyantap hidangan yang memang dihidangkan untuk kami, tapi ragu juga, karena bukan hanya kami yang menghadap hidangan, tapi kami tak perlu repot-repot berpikir lagi, kami sudah lapar.

tak sdiktipun kami memberi ampun pada jejeran makanan di depan kami, tak rela jika makanan yang membuat kami sering kali menelan ludah, hingga terkadang menimbulkan suara cleguk. ternyata kami juga diintai rekan se-meja, yang tahu suara bergedebum dari mulut kami dan gebukan cacing pada drum usus kami. kami bilang, kami lagigak enak badan, lebih tepat dibilang sakit perut dan sanagt tepat lagi dibilang LAPAR!!!

Sedikit berbasa-basi, peperangan akan dimulai, sendok sebagai senjata kami sudah kami lap dan periksa apakan gagangnya masih ada atau raib. Kalau raib tentu saja kasihan ama mempelai, terpaksa ikut bau. 2 menit kemudian, setelah terjadi tawar menawa, makanan tak mau menyerah. Kami berembuk. Maka kami putuskan kami menyerang duluan makanan, dan tak membiarkan maanan menyerang terlebih dahulu. Jadilah makanan sebagai bulan-bulanan. Seperti kemanusaiaan (baca : Kesetanan), tangan kanan-kiri, mulut kami menghajar tanpa berniat menyisaka sedikit pun lawan di medan perang, (kalau tak ada tuan rumah). Bahkan kami sudah bersiap-siap akan menawan lawan kami dengan TAS yang kami rencanakan sebagi tempat menyekap tawanan kami. Namun urung, karena sekian pasang mata para hakim-Mungkin dari pihak PBB-yang bertugas mengawasi jalannya peperangan, yang mengintai tanpa berkedip ke arah kami, tapi agak ke bawah daripada muka kaim, alias di titik sentral yang menjadi senjata utama kami; MULUT. Alhasil, kami terpaksa membayangkan kami akan kelaparan seperti waktu berangkat tadi, bahkan kami sepakat tidak bercerita bahwasanya kami sperti ikan sarden ditumpuk di atas travel.

oh ya, megenai keberangkatan kami, pake travel. Sombiong sih, jadi kaya sehari,,, gak nyampe,, mgkn 2 jam-an lah.. gak papa yang penting cepat nyampe, ngejar musuh. berhubung kami buru-buru, maka travel yang didapat pun buru-buru pergi dan bur-buru mengiyakan walau gak ada lagi tempat kosong, menyisakan sedikit ruang yang memberi kesempatan kami bersemedi (TIDUR).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s