dakwah back to As Shalah

Posted: 22,Feb , 2008 in dakwah


asm,, janganlah kita lepaskan mutiara yang telah ada dalam lukisan kalbu
Kembali ke Kemurnian Da’wah

Sebuah nasehat dari Imam Hasan Al Bana, mengawali renungan tentang penting dan mutlaknya da’wah bagi pribadi-pribadi muslim. Beliau mengatakan :”Wahai ikhwan, jika antum tidak bersama dengan da’wah, maka da’wah tidak akan pernah bersama antum. Dan jika da’wah tidak bersama antum, maka ia akan bersama dengan yang lain dan mereka adalah orang yang lebih baik dari antum.” Maukah kita tersingkir dari orang-orang pilihan?
Adalah aneh bila ada seorang da’i mengalami futur, nyebrang ke jalan lain, bahkan sangat aneh jika suatu saat ia bersikap kontra produktif dengan harokah da’wah yang sebelumnya ia berada di dalamnya.
Da’wah memang bukanlah jalan yang mudah untuk ditempuh. Seorang da’i pasti akan banyak menemui hambatan-hambatan di dalamnya, baik dari orang-orang kafir, musyrik, dan munafik bahkan dari orang-orang yang meng-klaim dirinya sebagai “Muslim Pembela dan Penegak Sunnah Rosul” pun menjadi hambatan da’wah. Merupakan tantangan bagi da’i sejati untuk melawan berbagai hal yang merupakan bid’ah, menyesatkan, mengharamkan dan menyalahkan serta menghujat kepada mereka-mereka yang pekerjaan sehari-harinya menentang da’wah ini. Sejatinya, tugas seorang da’i dan barisan mujahid adalah menegakkan Al Haq dan Hancurkan Al Bathil. Menegakkan cahya islam adalah emban yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Mengajak dengan hikmah, menyampaikan kebenaran. Menunjukkan kejelasan jalan yan menghantarkan manusia menuju kemuliaan hidup sebgai hamba-hamba Allah Rabbul ‘aalamin yang beriman. Maka akan sangat disayangkan dan layak dipertanyakan jika suatu saat nanti seorang mujahid hanya duduk terdiam seribu bahasa saat kemungkaran, kebathilan, dan kekufuran terlihat jelas di depan mata dan di depan hidung mereka. Sangat mengkhawatirkan jika kader da’wah malah terpesona bujukan gemerlap duniawi. Ironi, jika kader-kader da’wah lemah dalam membentengi diri dan ruhiyahnya, malah terpesona dan terpedaya yang pada akhirnya menjadi bagian barisan Al Bathil.
Para kader-kader da’wah juga musti menyadari akan adanya gangguan-gangguan dan godaan yang melumuri jalan da’wah. Ketika para aktivis da’wah melihat perjalanan yang masih panjang, dan semangat melemah, kekuatan menurun dan cita-cita merendah, atau bahkan lambat laun kewajiban-kewajiban da’wah dilupakan sehingga komirtmen terhadap dakwah semkin redup, maka kader da’wah sejati musti menyadari bahwa ini seuan adalah bisikan dari syetan yang sejatinya sudah bosan dan melemah dalam membujuk kita. Keadaran tentang inilah…! Yang menjadi harapan musuh-musuh da’wah. Mereka selalu menanamkan sikap putus asa dalam barisan para mujahid dan membuat peran aktivis seakan-akan memahat di atas air, sehingga para aktivis berjatuhan, gugur di jalan da’wah satu persatu, minimal peran meraka semkin berkurang. Diperlukan adanya charge ulang, upaya untuk memperbaharui kondisi ini, komitmen untuk kembali jujur kepada jalan da’wah yang telah kita yakini kebenarannya.
Suatu kewajiban bagi kader-kader da’wah untuk selalu mengibarkan da’wah itu sendiri. Ke sekelilingnya. Mutlak, tak dapat ditawar-tawar lagi. Tugas ini mulia; menyampaikan risalahNya. Tujuan pokok yang mesti tercapai; berjuang mengalihkan ummat dari kegelapan menuju cahay islam. Berda’wah dengan segala sifat dasarnya, dan istiqomah dalam memegang prinsip da’wah. Berda’wah menyampaikan kebenaran, tanpa tertutupi selaput sedikitpun. Ini adalah perintah Allah secara langsung :
“ Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Attaubah : 119). Dan kebenaran yang paling tinggi adalah tetap memegang sumpah setia (Rukun Baiat) dan menunaikan janji (sesuai dengan karakter kader sejati) dengan tetap menggenggam da’wah hingga titik darah penghabisan. Dan, kebenaran adalah tegaknya amalan-amalan tersebut atas dasar muwashofat kader sejati dengan penuh keikhlasan, kesungguhan dan kesudahan pengerahan kemampuan yang maksimal. Merealisasikan kebenaran dalam berjanji dengan Allah untuk tetap teguh dalam da’wah hingga meraih syahadah. ”Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”.(Al Ahzab : 23).
Menyadari, bahwa kalaupun kita memutuskan dan meninggalkan dakwah ini, sesungguhnya dakwah ini akan tetap hidup dengan atau tanpa kita.
Upaya penting adalah merevisi manhaj dan idarah halaqah harus diiringi dengan uoaya penyiapan dan peningkatan kemampuan para murabbi. Ini karena para murabbi adalah “The man behind the Manhaj and the Idarah”. Lalu siapa yang bertanggungjwab melaksanakan ini ? Jawabannya adalah struktur yang memiliki program tersebut. Dan siapa yang berada dalm struktur itu ? Manusia juga kan, maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan meng-up grade mereka yang berada di struktur hingga punya kemauan dan kemampuan melaksanakan program yang menjadi tanggungjawabnya.
Keberhasilan dakwah Rasulullah, didukung oleh dua faktor, SDM yang tentu saja faktor bimbingan manhaj Allah SWT. Faktor beliau sebagai murabbi handal, juga faktor SDM yang tak boleh diabaikan; kader-kaderyang berkualitas. Al -Jiil al-Qur’an al-Fariid ( Generasi Qur’ani yang Unik) kata Sayyid Qutbh.
Mengkomunikasikan dakwah agar berjalan menuju target-target yang diinginkan. Bahwa dakwah adalah proses mengajak secara efektif dan kontinu, bersifat rasional dan umum dengan menggunakan cara-cara ilmiah dan sarana yang efisien, dalam mencapai tujuannya dengan berlandaskan pada Al-Qur’an dan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah. Peran dakwah yang sangat penting, melalui berbagai media. Upaya tabligh (menyampaikan) Islam kepada lingkungan.
Dakwah dengan pola-pola yang bernuansa taisir (memberikan kemudahan) bukan ta’sir (menyulitkan), sebagaimana dipesankan oleh Rasululah saw :”…kalian diutus untuk memberikan kemudahan, bukan orang-orang yang menyulitkan” (dari Abu Huraiah, riwayat Bukhari-Muslim). Karena Islam adalah mudah, tidak rumit. Pola dakwah dengan mengedepankan lembut dan santun, tidak beralih kepada tindakan kekerasan kecuali dalam keadaan yang darurat.
Sebagai motivasi, perlu untuk senantiasa diingat balasan yang tinggi bagi mereka yang tetap istiqamah di jalan da’wah ini, hingga ajal menjemput. Allah berfirman :” Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya; Allah ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang besar.” (Al Maidah : 119). Dan sebaliknya akibat dan hukuman yang akan dikenakan terhadap orang-orang yang dusta dalam hidupnya. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-oramg yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tenmpat bagi orang-orang ynag menyombongkan diri ?” (Az Zumar : 60). Betapa kita mendambakan tampilan kader-kader da’wah yang bisa berpegang komit; istiqomah dengan kebenaran dan sejatinya da’wah dalam segala situasi dan kondisi apapun, sehingga da’wah ini akan memberikan kebaikan dan keberkahan bagi umat islam.
Sudah saatnya kita merefleksikan sejauh mana tingkat kesungguhan keistiqomahan kita dalam melanjutkan estafet kemurnian da’wah. Dakwah dengan pola-pola yang bernuansa taisir (memberikan kemudahan) bukan ta’sir (menyulitkan), sebagaimana dipesankan oleh Rasululah saw :”…kalian diutus untuk memberikan kemudahan, bukan orang-orang yang menyulitkan” (dari Abu Huraiah, riwayat Bukhari-Muslim). Karena Islam adalah mudah, tidak rumit. Pola dakwah dengan mengedepankan lembut dan santun, tidak beralih kepada tindakan kekerasan kecuali dalam keadaan yang darurat.
Yang perlu diperhatikan dalam dakwah adalah melalukan reposisi dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas informasi keseluruhan keislaman kepada umat, sehingga wawasan keislaman semkain luas dan terasa nikmat dan kerahmatannya dalam kehidupan berbangsa, dengan harapan terwujudnya kesadaran umat dalam mengekspresikan diri sebagai muslim dan mengaktualisasikan keislamannya.

Jadi, jika ingin meraih kembali kemenangan dakwah, kita harus membenahi kader di semua jenjang dan lapisan. Kader pimpinan, kader fungsionaris, kader murabbi dan kader mutarobbi, semuanya dikokohkan secara terus menerus tarbiyahnya. Konsekwensinya adalah program-program yang berorientasi pada pengokohan tarbiyah kader harus menjadi prioritas gerakan dakwah. Agar kader-kader dakwah memiliki energi dahsyat untuk melakukan kerja-kerja dakwah. Agar Allah memberikan pertolongan-Nya. Maka dengan kekuatan kader dan pertolongan Allah, insya Allah dakwah akan mengembalikan izzul islam wal muslimin. Allahu Akbar !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s