pilihan hidup

Posted: 28,Nov , 2007 in pergerakan

Padang, 25 November 2007

‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu lebih baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuartu padahal itu buruk bagimu”
“Bila mencintai seseorang janganlah terlalu, sebab bisa saja suatu saat dia malh menjadi orang yang kau musuhi. Begitu pun bila membenci seseorang janganlah terlau, sebab bisa
Saja suatu aat dia malah menjadi orang yang paling kau cintai”.
[HR. Turmudzi]

Kamis, 22 November 2007. Inggris terguncang. Publik Inggris berduka. Tim kebanggaan mereka yang selama ini mereka puja dan banggakan gagal berlaga di Piala Eropa 2008 akibat dipecundangi Kroasia 2-3. Publik Inggris geger. Selama ini timnas mereka yang mereka banggakan sebagai momok menakutkan bagi kesebelasan timnas lain bahkan masyarakat pesebakbola Inggris sepakat mengklaim Inggris sebagai kiblat sepakbola Eropa kini dipertimbangkan. Semua pihak harus membayar mahal kekalahan yang memalukan ini. Dihadapan publik mereka sebagian besar pendukung The Three Lions di stadion kebanggaan mereka hanya menahan perasaan marah dan kecewa mereka akibat hasil yang mengecewakan. Tentu saja, jelas banyak pihak yang menyalahkan dan disalahkan. Pemain dan pelatih tentu jadi perhatian utama [ baca : kambing hitam ]. Absennya para pemain andalan mereka jadi tameng untuk sebuah alasan kekalahan ini. Yang bernasib sial adalah pelatih Inggris, Steve McClaren. Tragis. Asosiasi Sepak Bola Inggris ( FA ) memecatnya sebagai pelatih akibat tragedi ini dengan alasan demi kepentingan pesepakbolaan Inggris.
Kekalahan ini bagi publik Inggris sangat memalukan. Dipastikan akan mengguncang di berbagai bidang karena ini membawa nama negara. Imbasnya sampai pada bidang ekonomi, sosial dan politik. Di bidang perekonomian, industri olahraga Inggris menyiratkan kegagalan the Three Lions [julukan timnas Inggris] akan membuat keuntungan mereka menurun secara drastis. Pernyataan tersebut keluar dari produsen peralatan olah raga asal Inggris Umbro dan perusahaan ritel Sport Direct. Bahkan disinyalir bisa berakibat lebih dalam ketimbang menurunnya angka penjualan. Produktivitas kerja pun terkena imbasnya. Jelas. Produktivitas kerja pegawai menunjukkan tren peningkatan saat timnas memperlihatkan hasil yang baik. Di Sport Direct, terjadi penurunan nilai saham jatuh sebesar 17 %. Perusahaan lain, JJB Sport mengalami penurunan saham sebesar 8,2 %. Adapun saham Umbro turun 3,7 % yang diperkiraakan merupaka penurunan dari hasil penjualan kaus timnas. Sungguh dampak yang sangat tragis.
Media massa Inggris turut memperparah dan menggembor-gemborkan kekalahan ini. Berbagai macam surat kabar melontarkan kecaman pada Steve McLaren. McLaren dianggap pantas dipecat dan ssama sekali tidak layak menukangi Inggris. Harian The Sun menyoroti gambaran sepak bola Inggris digambarkan tengah terbaring di selokan. Kolumnis Shaun Curtis menyumpahi: ” tidak berguna, menyedihkan, tidak bermutu, memalukan, sampah”. Daily Mirror menurunkan judul singkat ”Inggris memalukan”. Lebih tajam lagi, Daily Star ” Apa yang patut dibanggakan dari seorang pecundang”.
Dampak kejiwaan melanda para pemain. Jelas ini meninggalkan luka mendalam. Kekecawaan megharu biru. John Terry kehilangan kata-kata untuk menjelaskan perasannya. Steven Gerrad mengatakan ia sangat terluka dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mengobati dari kegagalan ini. David Beckham langsung tertunduk menangisi kekalahannya begitu peluit tanda usai pertandingan berbunyi. Semua pemain menyatakan kekecewaan itu adalah kekecewaan mereka, keluarga mereka, suporter dan setiap orang di Inggris. Sungguh besar efek kekalahan ini dan tentu saja sangat tragis yang berimbas pada diri masyarakat secara emosional (psikologis).
Kefanatikan ini harus dibayar mahal. Kebanggaan telah menjangkiti berbagai bidang kehidupan dan tingkatan masyarakat, dari level bawah hingga atas. Merebak dari kota hingga desa-pelosok kampung bahkan mungkin juga berimbas pada pemuja sepakbola Inggris. Kekecewaan pada bintang mereka yang selama ini mereka jadikan sebagai role mode tentu saja mempengaruhi kondisi psikologis mereka. Anak-anak dan remaja, tanpa merasa gengsi menangis histeris begitu tragedi ini terjadi, sumpah serapah kepada pemain pujaan mereka tanpa malu padahal secara sadar penuh mereka ucapkan untuk mengungkapkan kekecewaan mereka. Ada yang meneguk miras; frustasi. Ada yang mogok makan; fikiran mereka tepaut pada tragedi itu. Yang dikhawatirkan adalah jika phobia ini bisa mengarah kepada hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti kasus Andreas Escobar (Kolombia) yang melakukan gol bunuh diri di Piala dunia 1994, AS, nyawanya melayang ditembus timah panas penggemarnya sendiri. Para suporter demi membela kesebelasan favoritnya, mereka sudi berdarah-darah saat kesebelasan kesayangan mereka dihina bahkan bisa menjadi sangat beringas jika kesebelasannya kalah. Sering !
Ironis memang. Persoalan ini pelik karena sudah sistemik. Hegemoni ini perlu mendapat perhatian mendalam. Walau ini adalah sesuatu yang wajar, tapi menurut saya ini adalah over. Sebuah negara yang besar ternyata tidak bisa dengan lapang dada menerima permasalahn yang kecil. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Terkait dengan hadist Rasulullah : “Bila mencintai seseorang janganlah terlalu, sebab bisa saja suatu saat dia malh menjadi orang yang kau musuhi. Begitu pun bila membenci seseorang janganlah terlau, sebab bisa
Saja suatu aat dia malah menjadi orang yang paling kau cintai”.[HR. Turmudzi]. Maka sikap dan kondisi Inggris perlu disadarkan dari kesombongan mereka selama ini. Seharusnya setiap pihak ingat bahwa dalam sebuah pertandingan, menang dan kalah adalah satu sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Seharusnya mereka belajar phsychology of the losser (psikologi orang-orang kalah). Begitu picik pemikiran mereka bila dalam pertandingan selalu mengarapkan sebauh kemenangan. Seharusnya mereka yang mengklaim diri mereka intelektual, berjiwa besar dalam menyikapi permasalahan (kekalahan) ini.
Maka sudah sewajarnya kita harus sadar akan bahaya kefanatikan terhadap fenomena ini. Kewaspadaan patut diutamakan. Kewaspadaan ini lebih merupakan kehati-hatian. Jangan sampai kita larut turut dalam hegemoni ini. Dengan berkedok slogan sportivitas yang lebih tepatnya adalah basa-basi, terkadang kita sering melupakan persatuan ummat. Muslim tidak peka lagi tehadap musuh-musuh Islam. Sikap yang lebih toleran dengan musuh. Bahkan karena slogan itu kaum muslimin dipaksa berangkulan dengan negara-negara yang secara nyata membunuhi umat isalm. Membela kepentinga negara lebih didahulukan ketimbang membela kepentingan islam.
Kaum muslimin rela baku hantam sesama muslim di lapangan hanya sekedar membela kesebelasannya. Bahkan antar desa tetangga sendiri sering ribut. Contoh kasus suporter Persebaya yang di juluki suporter terusuh. Di Makassar, pemuda saling serang akibat saling tersinggung saat menonton bola dan masih banyak lainnya. Umat Islam lupa bahwa Allah SWT telah mengikat mereka dengan kalimat sahadat. Muslim satu dengan muslim lainnya adalah bersaudara. Ibarat tubuh jika ada salah satu anggota tubuh sakit atau terluka maka bagian tubuh lainnya akan merasakan sakit juga. Semoga kita tidak terjebak untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Amin.
[Semuanya ini tidak akan terealisasi hanya dengan ucapan meski ucapan ini keras dan tegas / not act, talking only ].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s