dasar nurani

Posted: 22,Nov , 2007 in taujih

Bila kita mau jujur, kodrat kita sebenatrnya kiy tidak bisa lepas dari bergantung kepada Allah, bahkan semua makhluk di muka bymi ini. Tidak juga orang-orang kafir.Tetapi tidak semua mereka menyaari halini, meski mungkin saja ia tahu. Gelombang fitnah dunia yang dahsyat, telah banyak menghanyutkan mereka dari sel yang semestinya.
Menyikapi ketergantungan kepada manusia, setidaknya manusia terbagi lima macam:
1. Merasa tidak perlu sama sekali
Orang-orang tipe ini tidak merasa perlu kepada Allah, sedikitpun. Kalaupun pada suatu saat dimana ia meliat kekuasaan Allah terjadi ia tetap akan mencari pembenaran lain. Orang seperti ini sebenrnya sudah matui sebelum mati. Mereka sama sekali tidak merasa perlu kepada Allah. Sejak dulu ingga kini tipe manusia ini banyak bertebaran. Bedanya, bila dulu lebih banyak karena jahil atau takabbur, kini banyak orang menentang Allah dan merasa tidak perlu kepadaNya karean merasa sudah cukupdenga peradaban yang dicapai. Teknologi dan perkembangan ilmu telah menuhankan akal merka sekaligus hawa nafsu mereka.
Kini. Dalam kapasitas pribasi maupun bangsa juga banyak tipe orang-orang yang mrasa tidak perlu kepda Allah. Anak-anak muda pecadu narkoba denagn enteng mengatakan bahwa soal mati tak perlu dipikirkan. Atau wanita-wanita yang sehari-hari tenggelam dalam lumpur dosa, denagn ringan dan tanpa bean. Pejabat dan pengusa yang mencuri,merampok, menilap, merampas hak, menzalimi oranglain, gadis-gadis yang mengumbar murah kehormatan dirinya, manusia-mausaia yang berperilku binayang, bangsa-bangsa beradab yang membunuh ribuan nyawa demi ambisis politiknya.
Pada masa pki masih ada di neferi ini, seringkali para senimannya mementaskan dramaa atau sejenisnya dengan lakon yang aneh-aneh. Misalnya seperti yang terjadi di jawa, ada tema [entas berjudul”Gusti Allah Menentu”, di kalia lain, “Matinya Gusti Allah”.
Sementara tak jauh pada tahun-tahun yang tak berslang jauh dengan mada PKI di Indonesia, di Mesir, ada seorang algojo penjara terkenal. Namanya Hamzah Al Baisuni. Ia menjadi salah satu penyiksa aktifis-aktifis dakwah yang ditangkap tanpa dosa. Mereka tabah dan selalu menyebut asma Allah. Mka muncul ucapan Baisuni yang tetap dikenang sejaah,”Bila Allah turun ke sini, niscaya akan saya masukkan ke dalam sel juga”. Itu hanyalah sebagian kecil comtoh tipe otrang-orang uangsama sekali tidak merasa perlu kepada Allah. Mungkin mulanya hati mereka ada yang terisik, namun lama kelaan lumpur dosa membutaka hati mereka.
Merasa perlu hanya pada saat-saat sulit.
Tipe kedua ini adalah orangorang yang merasa perlu, merasa butuh kepada aAllah ketika ditimpa kesulitan. Tapi pada saat lapang, ia aan kembali lupa dan lengah. Dalam kehidupan sehari-har- tipe kedua ini mungkin banyak kita temukan mungkin juga kadang didi kita sendiri. Ada yang hanya perlu kepada Allah pada saat ekonomi sulit, baru mengadu kepadaNya
Ketika mendapat musibah, saat sakit, saat ditinggal pergi keluarga tercint a, saat akan atau gagal ujian, saat hendak mencari pekerjaan, banyak orang-orang bebondong-bondong mendekat kepada Allah. Tapi kedekayan itu hanya tumbuh sesaat lalu layu sebelum berkembang.
Mereka itulah yang dimaksud Allah dalam firmanNya:
Dan apabila kamu ditimpa kemudaratan, maka hanya kepadaNyalah kamu meminta pertolongan. Kemudaian apabila Dia telah menghilagkan kemudharatn itu daripada kamu, tiba-tiba sebagian daipada kamu mempersekutukanNya dengan yang lain.[QS. An-Nahl:53-54]
Mersa perlu, tapi bersikap jual mahal.
Tipe ini dengan gamblang dicontohkan oleh orng-orang Bani Israil. Al-Qur’an berkali-kali menggambarkan karakter Bani Israil yang kadang merasa perlu kepada Alah tapi pada saat yang sam ia enggan menamoakkan keperluannya. Belum lagi tabiatnya yang lain, mengkhianati rasul dan membunuh para rasul, mengubah isi tautrat, menyukai riba dan hal-hal kotr lainya.
Perhatikan firman-firman Allah yang mengisahkan sikap mereka. Dalam sebuah dialog aqidah yang mengesalkan, mereka selalu menyebut Allah sebagai Tuhannya Musa.
”mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu?”[QS.Al-Baqarah; 68]

Begitupun dalam kesempatan lain:
”……sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia….”
Hari ini, tipe kedua ini banyak diprkyekken oleh para politikus. Betapa banyak dari mereka yang mendekat-dekat kepada Islam atau kepada kaum muslimin demi kelanggengan karir politik mereka. Memang, hanya Allah yan tahu isi hati mereka, tapi anjang sejarah kekuasaan di negeri nini sejak Orde Lama hingg Orde Baru, lalu sesudahnyadan sesudahnya, terlalu kenyang kita menyaksian penguasa bertipe Bani Israil itu.
Merasa perlu, tapi merasa tidak mampu
Iniyang diterapkan oleh orang-orang BaniIsrail. Itu pula yang mengantarkan mereka pada kemusyrikan. Mereka meyakini adanya Allah tapi tak pernah mampu mencapai pengetahuan yang benar tentang Allah.Lalu muncullah ilustrasi fsik tentang tuhan berupa patung-patung atau segala kepercayaan musyrikalainnya. Ini tindakan salah, bahkan diharakan. Dalam perkembangan kehidupan modern, tipe keempat ini juga banyak menimpa masyrakat. Bahkan bentuknya bermacam-macam. Ada yang beriman kepada dudkdun, patun, dan ramalan-ramalan atau zodiak.
Banyak yang sehari-hari teggelam dalam dosa, tapi mereka tak berdaya untuk melawan, tak mampu bangkit meskia kadng hatinya reasah dan merasa berdosa. Ada yang menyikapi segalanya dengan masa bodoh tapi sebenarnya memedam gumpalan kekecawaan. Htinya tidak pernah tenang.
Merasa perlu, dengan memaduka antara harapan dan kekhawatiran.
Mereka ini sepenuh hati MERASA PERLUA DAN BERGANTUNG KEPADAaLLAH. Sikap mereka seperti kat Sufyan bin ’Uyainah,”segala sesuatu bila kmu takuti, maka kamu akan menjauhinya. Kecuali takut kepada Allah. Takut epada Allah justru kamu harus mdekatinya”.
Tie terakhir inilah tipe yang pailing benar. Dengah memadukan antara ’pengharapan’ dan ’kekhawatiran’. Artinya sebagai seotrang mukmin mereka bisa memainkan seni bergantung kepada Allah. Dan, seni itu trletak kepada keseimbangan antara ”mengharap rahmat-Nya” dengan ”takut kepada azanya”.
Tipe ke lima inilah yang harus kita pliih . Kita ditunutu mengenali diri kita. Bila hati kita cenderung lengah, maka harus dimunculkan adalah sisi ”kekhawatiran kepada azab Allah”. Denga merenungi ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang neraka misalnya atau dengan melakukan muhasabah,tafakur, memperbnyak mengingat kematian, ziarah kubur dan lain senbainya. Di lain kesempatan, bila hati kita didominasi rasa takut yang berebijahn, seakan sudah tak bisa lagi berbuat baik, merasa tak mungkin menjadi lebih baik, merasa pintu taubat sudah tertutup, maka sisi yang harus dimunculkan dan diangkat adalah ”rasa pengharapan” kepada ampunan dan rahmat Allah.
Zaman yang penuh gejolak dan fitnah seperti saat ini, semestinya mendorong kita untuk terus mendekatkan diri kepada Allah. Setiap saat, setiap keadaan, kala lapang atau sempit. Mari berpacu mendekat lebih dekat kepada Allah,agar setiap saat kita selalu dalam bimbinganNya, agar kita selalu mendapat pertolonganNya.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s