Mengembalikan Pesona Mahasiswa

Posted: 10,Jan , 2011 in pergerakan

Dulu para mahasiswa bilang “Eh,,jangan berantem melulu lah…kayak preman saja”. Tapi sekarang preman menyeletuk “Eh,,jangan berantem melulu lah,..kayak mahasiswa aja kau ini”.

Sebegitu burukkah image mahasiswa di mata masyarakat ? sehingga kelakuannya menggeser (bahkan lebih buruk) dari pada preman. Sepertinya memang akhir-akhir ini status mahasiswa terpaksa dinodai dengan beberapa insiden yang membuat status mahasiswa anjlok kemuliaannya di mata masyarakat. Namun, tentu tidak semua mahasiswa yang melakukan perbuatan yang demikian. Tidak bisa menilai dan menghakimi seseorang hanya dari satu momentum saja. Dan tidak bisa menghakimi sekelompok orang hanya karena ulah seseorang. Maka, status mahasiswa tidak adil rasanya jika diturunkan kemuliaannya hanya karena ada mahasiswa lain yang berkelakuan tidak seharusnya. Masih ada (dan pasti ada) sisi baik dan mulia dalam diri mahasiswa yang membuat mahasiswa bangga berstatus mahasiswa.

Menilik kebelakang, sejarah yang ditorehkan mahasiswa. Dimulai dari kebangkitan bangsa dipelopori oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA Belanda yang menjadi inspirasi perlawanan kepada penjajah hingga mampu menggelorakan semangat pemuda dan bangsa untuk hidup merdeka. Dalam proses proklamasi kemerdekaan para mahasiswa kembali menjadi pelopor yang menyebabkan negeri ini memproklamirkan dirinya sebagai bangsa merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, dan bisa jadi jika bukan karena darah muda para mahasiswa, kita akan memeringati hari kemerdekaan bukan pada tanggal 17 Agustus. Pada saat reformasi, para mahasiswa adalah garda terdepan yang mengubah arah angin dan posisi rakyat yang sebelumnya selalu berada di bawah kesewenang-wenangan tirani.

Itu adalah beberapa dari sekian prestasi yang ditorehkan para mahasiswa. Maka tidak benar jika mahasiswa hanya bisa demo, apalagi maen kekerasan. Mahasiswa tetap pada khitahnya dan tegar dengan fungsinya; agen of change, iron stock dan social control.

Mahasiswa masih peduli. Disetiap bencana, selalu mahasiswa melakukan aksi mengundang peduli, simpati dan empati. Dari bencana Wasior, Merapi meletus dan tsunami mentawai, mahasiswa menunjukkan kepeduliannya dengan melakukan penggalangan dana yang dilakukan secara institusi (kampus tertentu) dan secara bersama bahkan gerakan nasional. Misalkan adanya aliansi BEM Seluruh Indonesia yang melakukan penggalangan dana serentak. Ada juga FSLDK yang juga melakukan aksi serupa. Pada bencana tsunami mentawai, Sumatera Barat selama 2 minggu pasca tsunami, hampir disetiap simpang-pusat kota selalu ada mahasiswa melakukan penggalangan dana dengan berdiri di jalan, di perempatan lampu merah. Bukan saja waktu dan tenga yang mereka korbankan, tetapi bahkan nyawa dengan resiko tertabrak kendaraan misalnya.

Mahasiswa juga masih berani. Berani mengingatkan kebijakan yang tidak bijak. Penggunaan sitem KRS online yang tidak memihak kepada mahasiswa ditanggapi BEM KM Unand dengan melakukan aksi menuntut dibukakan kembali pendaftaran via online yang memang masih bermasalah. Dan mereka yang beraksi pada saat itu, bahkan tidak membwa misi pribadi. Artinya, mereka bukanlah yang bermasalah dengan daftar ulang. Hanya karena memperjuangkan nasib kawan-kawannya dan memperingatkan pemimpin mereka, alas an mereka melakukan itu.

Mereka juga masih berani mengingatkan para pemimpin mereka untuk sangat memperhatikan masalah pelayanan di kampus. Adanya pungutan liar dan pungutan jinak (pungutan perpanjangan KTM dan pemotongan beasiswa- illegal) mereka sampaikan kepada pemimpin mereka agar tidak ada lagi hal yang demikian ada di kampus mereka.

Mahasiswa berani memperingatkan pemimpin mereka (gubernur) dan presiden untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat perasaan rakyat teriris. BEM KM Unand mendatangi langsung kantor Gubernur Sumbar untuk cek mengenai kepergian Gubernur ke luar negeri. Surat cinta untuk Presiden, adalah ungkapan kegelisahan terhadap kinerja pemerintah yang kurang dirasakan untuk kesejahteraan rakyat.

Mahasiswa pun masih tanggap dengan sekitar. Peringatan Hari Anti Korupsi se-Dunia tidak dilewatkan begitu saja tanpa aksi mengingatkan semua pihak untuk awas dengan budaya laten korupsi. Mendesak kejaksaan dan pihak terkait untuk serius memberantas kasus-kasus korupsi.

Dan masih banyak lagi kontribusi mahasiswa untuk masyarakat sekitar dan bangsa ini. Mereka tetap mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa ini. Dimanapun mereka berada. Akan selalu menjawab pertanyaan gelisah dari bangsa ini akan hadirnya harapan baru untuk membawa bangsa ini kea rah yang lebih baik.

Pesona Status Mahasiswa

Posted: 9,Jan , 2011 in pergerakan

Mahasiswa adalah status yang eksklusif. Mahasiswa adalah elemen masyarakat kecil dari keseluruhan komposisi pembentuk masyarakat. Tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan, dan semakin sedikit yang mengenyam pendidikan hingga perkuliahan. Oleh karena sifatnya yang terbatas ini, maka status mahasiswa bisa dikatakan eksklusif. Dan karena statusnya yang ekslusif, ia  harus mampu membuktikan keekslusifannya. Maka, seorang mahasiswa haruslah berbeda, cara berpikir, cara pandang dan sikapnya dari elemen masyarakat lainnya. Dalam hal ini, pembedaan itu ada pada hal-hal positif yang mampu ia berikan kepada masyarakat. Kontribusi yang ia berikan kepada masyarakat.

Mahasiswa adalah harapan bangsa, calon  pemimpin negeri di masa mendatang. Dipundaknya digantungkan asa bahwa mahasiswa mampu memberikan perubahan ke arah lebih baik bagi masyarakat. Tentunya, tantangan itu akan terjawab saat ia kembali ke masyarakat. Bercampur dan berbaur dengan elemen masyarakat lainnya. Dengan hak dan kewajiban yang sama dengan elemen masyarakat lain, hanya cara dan kualitas pemenuhannya yang berbeda. Sebutlah dalam hal membayar pajak misalkan. Biasanya masyarakat awam memandang itu (pajak) adalah sebagai beban. Namun, mahasiswa dengan kesadaran pengetahuannya, memandang pajak adalah sebagai bagaian kontribusi yang ia berikan kepada Negara untuk pembangunan.

Pada diri mahasiswa, adanya kematangan sikap dengan aplikasi ilmu yang didapat di bangku kuliah. Dalam menyelesaikan dan memandang suatu konflik, misalnya dalam pertandingan bola dimana masyarakat cenderung menyukai tindakan kekerasan dalam permainan bola, layaknya supporter fanatic, sebagai mahasiswa dengan kematangan pola pikirnya akan menganggap sepakbola adalah sebuah permainan dengan kalah dan menang adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dan selalu ada.

Dalam memandang suatu persoalan, ia anggap kekurangan adalah sebagai suatu tantangan, menganggap suatu keterbatasan sebagai  peluang. Dan ini sudah bisa dibiasakan dan dibuktikan seelum mahasiswa tersebut benar-benar siap turun ke masyarakat. Pada prorgam Kuliah Kerja Nyata misalnya adalah sebagai moment pembuktian sikap di atas. Maka, inovasi mahasiswa dibidang teknologi pembangkit listrik tenaga hidro misalnya, adalah bukti kerja keras mahasiswa dalam menyikapai keterbatasan adanya sumber listrik di suatu daerah.

Budaya kritis dan ilmiah senantiasa melekat pada dirinya. Memandang suatu hal dengan rasional (akal). Terhadap hal yang berbau mitos, ia tidak percaya begitu saja. Tetapi memandang segala sesuatu dengan berdasar akal dan logika. Kecuali memang hal yang diluar batas nalarnya. Misalkan masalah keagamaan yang kadang logika tidak mampu menjangkau masalah-masalah keagamaan.

Mereka juga memiliki kemampuan dalam menganalisa suatu permasalahan untuk kemudian mendapatkan solusi tepat. Kepiawaian dalam bersikap atas kendala yang dihadapi. Dengan segudang ilmu (meski terkadang adalah teori), diharapkan mahasiswa mampu menjadi problem solver, tempat bertanya bagi masyarakat. Jika masyarakat cenderung sebagai problem maker atau problem trader, justru mahasiswa menjadi problem solver. Jika masyarakat acapkali mengeluhkan masalah, mahasiswa justru menemukan solusi-solusi. Ia menghindari pemecahan masalah dengan cara represif dan sporadis.

Mungkin terasa ideal  benar kondisi di atas. Dan ternyata, pada kondisi sehari-hari ternyata malahan ditemui profil mahasiswa yang tidak seperti disebutkan di atas. Menurut hemat saya, karena kurang dibiasakan saat berada di kampus. Makanya, pada saat berada di kampus dengan lingkungan yang relative homogeny tingkat pendidikannya, adalah ajang mempersiapkan diri untuk menjadi mahasiswa yang ideal (atau mendekati ideal). Makanya, jadikan latihan itu senagai sungguhan dan kondisi sesunggunya sebagai latihan. Dengan menganggap sebagai latihan, tentunya ada permakluman saat ditemui kondisi-kondisi yang tidak seharusnya.

Dengan menyadari adanya rangkaian tantangan yang menantinya di depan sana membuat   mahasiswa harus gelisah dan segera untuk mempersiapkan bekal-bekal dalam mengadapinya.  Benar-benar disiapkan agar suatu saat ketika dibutuhkan unuk muncul, maka bisa disikapi dengan tepat.  Dan saat itu adalah saat dimana ia benar-benar terjun ke masyarakat saat ia sudah wisuda. bercampur  dan berbaur dengan masyarakat yang lebih heterogen dengan kondisi keilmuan, tingkatan ekonomi dan kemampuan yang bervarasi. Namun, meski bercampur dan berbaur dengan masyarakat, tetapi sikap fundamental seorang mahasiswa (pemuda) tidaklah luntur. Menurut Mahfudz Siddiq, nilai lebih atau kekutaan seorang mahasiswa atau pemuda  adalah :

  1. Idealisme
  2. Kecerdasan
  3. Sikap kritis dan kepekaan sosial
  4. Keberanian
  5. Pengorbanan

Kelima hal diatas tetap akan ada pada diri mahasiswa (pemuda) dimanapun mereka berada. Dan jika salah satunya hilang, maka aan mengakibatkan kecacatan pda status mahasiswa. Atau hilanglah status mahasiwa tersebut. Dengan kata lain, jika idealisme telah sirna, raibnya kecerdasan, sikp kritis dan peka entah kemana, keberanian menciut dan terkikis habis pengorbanan, mengakibatkan seseorang itu tidak layak disebut sebagai mahasiswa (pemuda).

Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal mengatakan, pihaknya akan melakukan perubahan terhadap pendidikan profesi guru yang sudah dilakukan selama ini. Menurutnya, selama ini pendidikan profesi guru selama satu tahun dinilai belum cukup untuk bekal mengikuti perkembangan yang terjadi. Bahkan, termasuk pendidikan 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

Mantan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemdiknas ini mengungkapkan, design pendidikan profesi guru selama ini menggunakan siklus 4 tahun sarjana dan 1 tahun pendidikan profesi. Dikatakan, keduanya tersebut harus dilihat secara menyeluruh. Jika pendidikan profesi satu tahun diperbaiki, lanjut dia, maka pendidikan 4 tahun juga harus mendapatkan perbaikan serupa. “Itu yang harus kita kejar terus. Apalagi kalau sudah dibayar mahal untuk itu,” ujar Fasli usai membuka seminar Re-Design Pendidikan Profesional Guru di Jakarta, Sabtu (18/12/2010).
Fasli menambahkan, guru adalah tiang pembangunan. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan terhadap guru pada 2008, masih ada 1 orang guru dari 7 orang yang tidak berada di kelas untuk mengajar. Masalah-masalah seperti ini yang harus diperbaiki. “Kita memiliki data per kabupaten dan kota, data per studi, data per jenjang pendidikan berapa guru yang dibutuhkan. Saat ini saya sering dikritik orang dari Bappenas dan Kementerian Keuangan, dengan menaikan anggaran, apa kontribusi pendidikan untuk kita?,” imbuhnya.

Di samping itu, Fasli juga mengatakan, meskipun banyak jumlah guru yang telah lulus portofolio, namun hal tersebut tidak akan mengubah sikapnya. Di dalam kelas, lanjut Fasli, khusus bagi guru matematika terlalu banyak membahas masalah yang tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran. Bahkan, jumlahnya sangat tinggi hingga mencapai 11 persen. “Di negara lain seperti Jepang hanya 1-2 persen saja,” tegasnya.

Guru-guru yang tidak lulus fortofolio, katanya, dimasukan dalan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Semuanya harus mengikuti pendidikan selama 90 jam. Padahal, kekurangan guru tidak semuanya sama. “Harus ada pembagian kelompok. Tidak perlu semuanya 90 jam. Terlalu menghabiskan waktu dan dana. Mungkin cukup 50 jam saja. Atau cukup 20 jam saja. Kita tetap tes potensi akhir dan personalnya,” harap Fasli. (cha/jpnn)

Manusia dan Cita-cita

Posted: 14,Des , 2010 in motivasi

Manusia yang tak mampu memiliki cita-cita adalah manusia yang lemah. Memimpikan saja tidak sanggup. Berfikir tentang bagaimana kondisi ia di masa dating ia bahkan tak mampu. Tak tahu kemana arah ia meuju, apa target yang harus dicapai. Tak ada pilihan lain untuk menjadi pribadi yang sukses kecuali berani. Keberanian bermimpi dan merealisasikan impiannya. Untuk kemudian, oleh ummat ia menjadi tumpuan. Oleh oranglain ia menjadi pengharapan.

Disinilah letak pentingnya sebuah mimpi atau cita-cita. Ia member arahan, kemanamuara yang dituju. Ia memberikan kendali, agarberjalan tepat pada lintasan seharusnya. Ia member tujuan, gambaran yang ia kehendaki.

Pada ruang dan waktu yang tersedia untuknya, memberi kesempatan untuk dilakoni dengan sebaik mungkin perilaku. Untuk sebuah karya dengan hasil perjuangan diri sendiri.

 

Alangkah  bijaknya jika pendidikan yang dilakukan benar-benar memerhatikan aspek penguasaan daripada kuantitas proses belajar. Pemahaman daripada  banyaknya hafalan di kepala. Terlebih lagi, kemampuan pengamalan atas interaksi ilmu yang didapat pada sekolah.

Akan tetapi kalau kita lihat bagaimana kondisi siswa-siswa sekrang ini, kebanyakan mereka hanya melakukan suatu proses pendidikan, tanpa mampu memosisikan diri sebagai produk pendidikan. Perilaku mereka belumlah mencerminkan bahwa mereka adalah golongan terdidik. Mereka mungkin mampu menghafal beberapa bab dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi pada prakteknya, mereka belumlah mampu mengamalkan pelajaran tersebut dalam kesehariannya. Hal ini terbukti dengan maraknya tawuran, geng-geng, dan indisiplin siswa misalnya dalam mematuhi peraturan lalu lintas.

Fajar RV – Rakyat Sumbar Utara

SD Negeri 01 Lubuakbatingkok, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional atas prestasinya sebagai peraih nilai rata-rata tertinggi Ujian Akhis Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) tingkat Sumbar.

Penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional tersebut, sudah diserahkan Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo kepada Kepala Sekolah dan Komite Sekolah, beberapa hari lampau.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Limapuluh Kota Indra Kesuma didampingi Kabid TK/SD Rafles, dalam UASBN tahun 2009, SD 01 Lubukbatingkok meraih nilai sangat tinggi. Untuk pelajaran bahasa Indonesia nilai yang dipeolerh 9,40, untuk Matematika 9,57 dan IPA 9,11.

“Nilai ini diatas angkat kabupaten yang rata-rata 8,02 dan angkat propinsi yang rata-ratanya baru 7,39,” kata Indra Kesuma dan Rafles. (*)

Minggunya Supadilah

Posted: 21,Nov , 2010 in aktifitas

Aktivitas dimulai sekitar jam 4.30 meski jam berapapun saya tidurnya, kayaknya sih. Tadi malam tidur dini hari. Jam 1.30 am. Alhamdulillah lumayan cepat dan mudah bangunnya.
Shalat subuh d masjid. Hingga jam 6 melakukan agenda pribadi, kadang tidur lagi (sebentar), siap2 untuk kativitas pagi ini.
Nah, pukul 07.00 sudah keluar wisma menara untuk pinjam motor. 07.30 diusahakan dah start pergi ke tempat ngajar. Hari ini ngajar di dua tempat. Pertama di daerah lubuk buaya, Padang. Jauh dari wisma. Sekaitar 1 jam perjalanan pake motor. Ngajar 3 siswa. Dari jam 9 sampe jam 11. Pulang sampe rumah zuhur; jam 12. Habis tu istirahat untuk ngerjakan aktivitas selanjutnya. Cukup kosong pas bakda zuhur. Ashar, ada 2 agenda rapat. Di Unand dan di Jati. Karena tubuh ku hanya satu, harus ada yang dikorbankan. Rapat sampai jam 6. Selanjutnya ke masjid sekalian ketemuan untuk pinjam motor mau ngajar jam 7 malam (lagi). Motor minjam. Karena belum punya sendiri.
Ngajar hingga pukul 21.00 WIB. Shalat Alhamdulillah bias izin untuk shalat pas waktu masuk. Pulang dalam keadaan lapar, meski di tempat siswa tu ada brownies dan the. Namanya perut orang kampong, tak cukup makan seperti itu. Special, mala mini dikasih rending. Hehe….Eh, rupanya ada tugas. Langsungputar haluan cari warnet. Modem agak lelet.
Belum makan, nah jam 22.00 baru pulang, Alhamdulillah bias nengguk minum pertamanya. Jadi, seperti itulah aktivitas rutin di hari minggu. Yang kalau di daftarkan lagi :
1. Mencuci
2. Olahraga
3. Ngajar di lubuk buaya
4. Menyiapkan bahan ajar jam 19.00
5. Rapat (salah satu aja)
6. Ngajar dari jam 19.00 sampai 20.30 WIB
7. Ke warnet
8. Ngetik tulisan ini.