Banyak orang berani untuk tak takut bahwa amanah adalah tanggungjawab, yang akan diadili kelak. Sehingga masih ada amanah yang terlalaikan, diri yang tak dmanfaatkan. Kerja-kerja yang seadanya. Program-progrm yang takkunjung dirancang; semenara waktu terus bergerak menjauh. (rapat-rapat yag ering itinggalakan, absen-absesn yag kosong, tugas-tugas yang terbengkalai, deadline yang diunda. Kerja yang tak maksimal. Terkesan seadanya. Kekurangan disana-sini. Oh.kapankah hati ini sadar?
Banyak orang berani untuk tak takut dengan sikap yang tak bijak. Terkesan eksklusif. Adanya pemisahan dar yang lain karena tak pantas. Merasa lbih berkualitas, lebih tinggi dari yang lain. Merasa bersih karena yang lain salah. Karena ia tak terlihat salah, maa ada rasa bahwa lebih baik dari manusia yang lain.
Banyak orang berani untuk tak takut dengan tertawa berlebihan. Entah kenapa. Apakah karena banyak amal seingga yag sediit akan tertutup dengan yang (dirasa) besar? Tertawa yang berlebihan kadang ditambahi. Banyak bercanda yang mematikan hati, padahal ada tuntunan dari teladan mereka?
Banyak orang berani untuk tak takut dengan tindakan tanpa dipikir. Akibat dari keputusan yang bisa saja merugikan bukan hanya seseorang, tetapi juga jamaah.
Banyak orang berani untuk tak takut dengan sikap yang mungkin selama ini salah. Pede yang mendekati sombong, canda yang berlebihan, tentag qadhul bashar di fisik saja. Kendali hanya di lar sementara kalau suda ribadi maka jauh berbeda.
Banyak orang berani untuk tak takut jika kesopanan belumlh dimilik. Kato nan ampek ang digembor-gemborkan sebagai pandu adat rupanya belumlah ada padanya. Batasan umur, intelektalitas, jabtan dan kelimuan, itu harus dipertimbangkan dlam mengambil ketepatan sikap. Sehingga tak ada yang kurang mengerti akan halnya etika dan kesopanan.