Dulu para mahasiswa bilang “Eh,,jangan berantem melulu lah…kayak preman saja”. Tapi sekarang preman menyeletuk “Eh,,jangan berantem melulu lah,..kayak mahasiswa aja kau ini”. Sebegitu burukkah image mahasiswa di mata masyarakat ? sehingga kelakuannya menggeser (bahkan lebih buruk) dari pada preman. Sepertinya memang akhir-akhir ini status mahasiswa terpaksa dinodai dengan beberapa insiden yang membuat status mahasiswa anjlok [...]
Arsip untuk ‘pergerakan’ Kategori
Mahasiswa adalah status yang eksklusif. Mahasiswa adalah elemen masyarakat kecil dari keseluruhan komposisi pembentuk masyarakat. Tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan, dan semakin sedikit yang mengenyam pendidikan hingga perkuliahan. Oleh karena sifatnya yang terbatas ini, maka status mahasiswa bisa dikatakan eksklusif. Dan karena statusnya yang ekslusif, ia harus mampu membuktikan keekslusifannya. Maka, seorang mahasiswa haruslah [...]
Ketika pintu2 diplomasi tertutup. Suara tak lai didengar. Rengekan tak digubris. Bujukan tak diacuhkan. Maka ada satu jalan lagi dalam memperjuangkan suara kita; aksi. Aksi damai yang dipilih oleh BEM KM Unand dalam menyuarakan keinginannya untuk memiliki kampus yang lebih professional dan bak dalam pengelolaannya. Penggunaan system online KRS yang sedianya diberlakukan di Unand secara [...]
Jadi mahasiswa, tak hanya cukup study oriented saja, tetapi keaktifan dalam menapaki dan mengisi masa-masa perkuliahan dengan berbagai kreativitas dan produktivitas sebagai mahasiswa. Misalnya dengan aktif dalam organisasi, dan lainnya dalam upaya pengeksploitasi sumber daya pada diri mahasiswa. Hal ini akan menambah tanggungjawab kita. Yang pertama, tanggungjawab akan studi kita kepada orang tua dan tanggung [...]
Tuhan kami… Telah nista kami dalam dosa bersama Bertahun membangun kultus ini Dalam pikiran yang ganda dan menutupi hati nurani Ampunilah kami ampunilah amin Ketika rakyat yang terus saja diam dalam stagnanisasi dalam memilih figur pemimpin yang memang mirip sebuah mesin tua, tetapi tetap dipertahankan sebagai ukruan kematangan pemimpin. Kekayaan seorang pemimpin menjadi pujaan, ddan [...]
Wapres: Kemiskinan Menurun Sejak 1990
Sabtu, 12 Desember 2009 12:38 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam | Dibaca 146 kali
Jakarta (ANTARA News) – Wakil Presiden Boediono, Sabtu, menyatakann, sejak 1990 angka kemiskinan di Indonesia terus mengalami penurunan dari 60 persen menjadi 14,1 persen pada 2009.
“Ini catatan sejarah kita, penduduk miskin turun dengan pesat. Sejak tahun 1990 angka kemiskinan turun walaupun pada 1998, sempat naik sedikit karena ada krisis ekonomi,” katanya, pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta, Sabtu.
Boediono menambahkan, sejak 2000 sampai 2009, angka kemiskinan berada di bawah 20 persen, dimana untuk 2009 saja angka kemiskinan berada sedikit di atas 10 persen.
“Dari 2000-2009 angka kemiskinan sudah di bawah 20 persen. Tahun 2009 di atas 10 persen,” tutur Boediono.
Menurutnya angka kemiskinan ini masih bisa ditekan karena Indonesia berpotensi bisa menanggulangi kemiskinan yakni struktur perekonomian dan pertumbuhan ekonomi yang baik serta program-program pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.
“Saya yakin persentase masih bisa diturunkan jika kita memanfaatkan potensi ini,” ungkap Boediono.
Jika potensi tersebut bisa dijalankan, Boediono yakin persentase angka kemiskinan tahun ini sebesar 14,1% bisa ditekan hingga 8-10% pada 2014.
Boediono lalu mengimbau pemerintah daerah, selaku pelaksana lapangan, agar benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyat guna mengurangi kemiskinan.
“Ujung tombak muaranya di daerah. Itu akhirnya ada di tangan daerah, di tingkat lapangan sehingga kita bisa mencapai angka-angka yang kita harapakan tadi,” demikian Wapres. (*)
COPYRIGHT © 2009
ComenT: Hati-hati dengan data manipulasi. Jangan bangga dengan angka-angka. Cari kebenarannya sendiri. Kepada para penguasa yang menyatakan angka kemiskinan menurun pad atiap tahunnya. Indonesia mendekati sejahtera katanya. Baguslah layaknya khalifah Umar ibnul Khattab Pak Wapres dan para wakilku. Ini sekedar usul, kalau mau lihat yang riilnya kondisi rakyat kita, turunlah ke jalan, atau ke lapangan. Insya Allah mewakili. Berikut ini tulisan hasil dari sejenak melintas, di Lapangan Hijau Imam Bonjol Padang. Beberapa kali sebenarnya lewat sana. Tapi sekali ini agak peduli dan ingin lebih banyak menghabiskan waktu melihat rupa-rupa di sana.
Saya masuk dari simpang empat Jl Bagindo Azin Chan. Pertama saya lihat, di “gerbang Lapangan Hijau Imam Bonjol saya disambut dengan seorang ibu pengemis tua dengan menggendong anaknya. Anaknya tergeletak di depannya. Mengundang iba bagi yang melihatnya. Padahal, tak kurang dari 8 m didepannya adalah perempatan jalan, tempat lalu lalang kendaraan yang setap saat mengeluarkan gas buang yang berbahaya bagi si ibu dan si kecil anaknya.
Masuk lagi sekitar 5 meter, ada tempat duduk terbuat dari semen. Di sana bertengger seorang perempuan berambut api eh merah, entah karena ‘gak pakai shampoo atau punya kebiasaan seperti bule; berjemur (itupun kata entah..siapa dari dulu ada anggapan demikian). Dan terlihat tato entah motif apa. Ditemani bebeapa laki-laki yang tak kalah ribut aksesoris mereka. Cewek itu kurang 1 lagi sebagai kelengkapn kesangarannya : rokok ditangan.
Ternyata usulanku langsung disetujui, entah Lapangan Hijau Imam Bonjol seperti tahu isi pikiranku, disebalik pohon tempat dimana duduk ditempatkan, kini ada seorang cewek yang meski rambutnya sedikit keurus (agak hitam atau kecoklatan gitu), terselip di jarinya sebatang rokok). Meski gak komplet sepeerti cewek yang tadi, tapi cewek ini dilengkapi dengan gitar. Memang sih, di sebelahnya ada juga cowok yang pegang gitar. Tapi kayaknya eh mungkin si cewek jago juga gitarnya maka dipegangin gitar juga. Mereka ber 5 kira-kira.
Maju lagi, ada sekumpulan anak-anak SMP yang sedang maen bola. Sampai harus ku pertajam mata agar benar-benar yakin mereka bukanlah sedang olahraga (mereka lagi praktek mungkin). Tapi tidak, mereka ada yang sambil merokok, dan aduhai,… potongan rambut mereka kira-kira sampai saat ini ku dapat) gaya vokalis Kangen Band, dan celananya pensil. (kasihan, orang udah pada ngetik dia pake pensil). Masih muda kali ya… atau memang gaptek..?!? bukan satu saja yang seperti itu, rata-rata, bahkan mereka yag sedang duduk juga, tentu saja sambil bertengger rokok dijemarinya.
Mengikuti jalan yang berada di samping lapangan bola, di jejeran jajanan; bakso, mie ayam, dan saudaranya, rata-rata yang duduk terlihat sedang memesan dan menyantap adalah pasang-pasangan. Masih terlihat muda, bahkan ada yang ceweknya masih pakai seragam SMA, tapi terlihat jilbab (di Padag memang jilbab di wajibkan). Wajar aja jika ada pemandangan serupa seperti tu.
Samar-samar dan memang mataku yang sudah kena, dibelakangnya terbahak-bahak kumpulan laki-laki dan perempuan berpakaian dan berhias menor (mungkin, tapi lebih tepatnya warna pakain yang wah). Dekat telepon umum dan diseberangnya kantor walikota Padang. Aku yain itu.
Aku teruskan perjalanan yang hamir saja aku nabrak orang; pasangan lagi. Tinggi dikit dari aku, rambutnya tegak, kena listrik tegangan tingi barusa dan ceweknya mungkin. Huff..lagi-lagi.
Hampir habis jalan di pinggir Lapangan ini, dengan sudah banyak yang ku temui. Di sini aku temui seorang amak-amak memanggul dan menawarkan jajanannya; tebu. Rp. 1.000 Cuma. Aku membayangkan dia mungkin menanggung beberapa anak di rumahnya. Dan hanya dari jualan tebu yang hanya Rp. 1.000 dalam kantung plastic seperempat kiloan. Bukannya meremekan, tapi …. Sesak juga dada melhatnya
Dari jauh terlihat juga agak samar pemandangan yang hampir sama dengan tadi; pengemis, penjaja dagangan (tebu dan asongan), hilir mudik pasangn2 yang entah legal atau tidak. Suara tawa pedagang yang terbahak-bahak, menutupi kerisauanku lewati jalan ini dengan beberapa puluh menit merayapinya. Yang pasti, baru kali ini bau kemanusiaan merasuki hidung kepedulianku*. Ketika benar-benar ingin tahu apakah kesejahteraan sudah adil dan keadilan sudah mensejahterakan, melihat apakah dakwah sudah sedemikian dibanggakan, sejauh mana capaian dakwah (islam) maka, MARI LEWATI JALAN INI.
banyak hal-hal menarik yang dijumpai dan akan sulit ditemui pada saat
(akhir-akhir) ini. ada
pengalaman yang dapat ditiru, ada semangat yang diwarisi. perjuangan yang
diteladani.keikhlasan perjuangan para pejuang dengan pengorbanan yang
begitu berat. ada
persatuan dankesamaan tujuan bergerak.
namun juga ada hal-halpahit yang dirasa. penderitaan,kesusahan dan
pengorbanan.walau indah,
tapi proses ini berat.
yang pada akhirnya buah dari semua ini adalah suatu hadiah terindah
bagi rakyat;kedaulatan
negara. Misi dari semua yang dilakukan adalah menghantarkan rakyat
pada tempat dankeadaan
azasi sebagai makhluk Allah.
bisa sebagai gelar, namun tak perlu dicari, direbut atau diaku-akui.
Tak perlu repot-repot
mencari gelar pahlawan; bahkan tak boleh ngotot pengen dapat label pahlawan.
ia diperuntukkan bagi yang ikhlas dalam perjuangannya; bagi yang tidak
ikhlas maka yakinlalh
bhwasanya sebuah kesia-siaan dalam mendapatkannya. Bahkan terkadang,
pahlawan sejati
(mereka yang benar-bear paham dengan gelar pahlawan)tidak nyaman
dengan label pahlawan.
Peradaban, Kebudayaan dan Kekuasaan Kalau kita baca definisi kebudayaan (culture), misalnya dalam Kamus yang sama: (1). The totality of socially transmitted behavior patterns, arts, beliefs, institutions, and all other products of human work and thought…., maka kebudayaan memiliki makna yang hampir sama dengan peradaban. Keduanya adalah hasil kerja manusia pada suatu zaman. Namun, dalam pembicaraan [...]
Membaca pikiran Anis Matta, maka bersiap-siap menyerahkan diri ini dalam arus pemikiran seorang yang sanagt sulit ditebak jalan pikirannya. Berkerut kening kita menebak-nebak kemana arah tujuan Anis dengan segala properti kata-kata yang dibawa. Tajam, simple, sederhana, berkualitas, dan sarat makna. tulisannya berserakan di sana-sini .
benteng terakhir itu memang sudah runtuh. institusi politik umat islam paling tinggi itu bahkan hingga kini belum tergantikan. adalah kemal attaturk dengan sangat gagah menghantarkan dunia isalam pada sebuah potongan sejarah tanpa khalifah. tapi sebenarnya secxara kasat mata, proyek sekularisme tidak berhasil menanamkan ideologinya ke tubuh islam. Tak sampai seabad, sejak keruntuhan khalifah di Turkey, [...]